Another rant this morning. I think I need to get this out of my system.
Bekgron problem dulu biar ga bingung..
Tinggal di negara yang Muslim nya termasuk minoritas, membuat saya jadi super aware sekali sama yang namanya makanan Halal-Haram. Boleh dibilang, saya termasuk orang yang strict buat urusan yang satu ini. Saya punya prinsip sendiri, kalo bukan Halal certified atau yang punya restoran itu orang Muslim, saya ga akan makan disana. Minum mungkin masih ok, tapi kalo makan, saya akan menolak dengan halus.
Itu kalo masalah makan di restoran, lalu gimana kalo yang produk2 ga bersertifikat Halal?
Waktu saya masih di Jepang, dimana produk2 seperti itu bisa dihitung dengan jari, kadang2 saya memang tidak punya pilihan lain. Tentunya setelah memastikan kanan kiri kalo apa yang akan saya beli ini memang aman. Bisa tanya2 teman yang lebih ahli, atau ke tempat2 lain yang memang mencantumkan list barang2 Jepang yang aman di konsumsi.
Tapi di Singapore yang produk Halal certified nya bertebaran? Saya selalu pilih yang Halal certified sebisa saya. Cadbury ga Halal certified? Ga masalah, masih ada Van Houten dan yang lain. Starbucks ga Halal-certified? Coffee Bean juga ga kalah enak.
All good now, yea?
Trus, problemnya apa?
Prinsip saya yang seperti itu pastinya ada yang mencibir. Dibilang terlalu strict lah, dibilang sok lah, sampe ada yang menyindir dengan kalimat standar yang entah sudah berapa kali saya dengar, "Ga ada Halal certified bukan berarti ga halal kan? :)"
Iya, itu ada emoticon smiley di belakangnya. I hate that kind of thing by the way.
Memang, pada dasarnya segala sesuatu itu Halal sampai dinyatakan haram. Dan saya tidak akan membantah itu. Tapi, saya memilih bersikap hati2. NO HALAL CERTIFIED MEANS NO. Titik. Kalau orang lain tidak berprinsip seperti itu, silakan.
Tapi sebagai Muslim, sudah kewajiban saya mengingatkan. Untuk bersikap hati2 tentunya. Karena jujur saja, di Indonesia sekalipun yang mayoritas nya Muslim, sikap hati2 begini surprisingly jarang sekali saya temui. Mungkin karena konsensus yang ada, dari Muslim ya sudah pasti lah Halal. Tapi sayangnya yang saya denger ga seperti itu, dan sedihnya lagi, banyak orang yang kurang hati2.
Itu baru kasus makanan yang made in Indonesia. Sekarang makin banyak makanan impor yang di re-sell sama online shop, terutama makanan dari Jepang, Korea, atau US. Sebut lah merk Kit Kat. Yang satu ini banyak banget di impor ke Indonesia dari Jepang karena memang varian yang di Jepang itu macam2 banget, ga cuma coklat thok. Atau Pepero dari Korea. Dan yang lagi ngetren sekarang adalah Ovomaltine.
Yang bikin saya gemes adalah, mentang2 yang jual itu orang Indonesia, lantas kawan2 Muslim di Indonesia itu terima mentah2 saja kalo dibilang 'Halal'. Ga bothered buat periksa bahan, atau sekedar browsing internet nanya2 apa ini aman dimakan sama Muslim apa ga.
Bahkan adik saya sendiri pun seperti itu. Dikasih oleh2 makanan dari Singapur, dicoba dan enak katanya, trus dia nitip ke saya buat dibeliin makanan itu, langsung saya semprot, "Itu ga halal!"
*tarik napas*
Dan yang paling bikin sakit hati adalah, ketika kita mengingatkan kawan kita tentang hal2 seperti ini, yang ada mereka malah MARAH dan DEFENSIVE.
Seperti yang saya sebut di atas, mereka cenderung mencibir dan mengelak dengan berbagai macam alasan. Tak perlu lah saya tulis disini, yang jelas alasan2 mereka sering membuat saya meragukan kapasitas cara berpikir mereka.
Saya sering menghibur diri dengan membatin, "Ya sudahlah, yang penting sudah mengingatkan."
Tapi kadang2 kesal juga karena kita dicap aneh2 hanya karena mengingatkan. Sampai kadang2 berpikir, sudahlah buat apa lagi diingatkah kalo ujung2nya cuma dicemooh dan dicibir.
Btw, kenapa ya untuk hal2 seperti ini malah colleagues2 saya yang non-Muslim yang cenderung lebih menghormati dan bisa menerima? Sementara kawan2 Muslim saya malah susaaaah sekali menerima prinsip yang seperti itu.
Ah manusia :(
Sunday, January 11, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment