my life started with sixteen-two

Friday, February 20, 2015

Yoga Dirga Cahya : in my memory

Saat saya mulai menulis postingan ini, saya merasa mata saya mulai basah.

Saya pertama kali bertemu Yoga saat saya baru masuk NTU, kurang lebih 10 tahun yang lalu. Beliau adalah teman satu angkatan suami saya dari jurusan Biologi. Kemudian, saya dapat kesempatan untuk bekerja bareng Yoga di komite Get Together Day 2006, semacam komite penyambutan mahasiswa baru Indonesia di NTU. Saat itu, saya adalah koordinator PR, sementara Yoga menjabat koordinator group leaders.





Tak banyak interaksi saya dengan Yoga saat itu. Lebih karena portfolio kami yang memang tidak perlu berkoordinasi terlalu banyak, dan saya yang masih anak baru. Kesan tentang Yoga saat itu adalah: Yoga punya bakat buat jadi pangeran kampus :)

Empat tahun saya di NTU, kabar tentang Yoga cuma sekelibat saja yang saya dengar. Paling2 cuma say hello kalau ketemu di jalan ke lecture atau tutorial. Tempat gaul nya beda, teman gaul nya juga beda. Dan ya sudah, begitu saja.

Setelah beliau lulus pun saya kurang dengar lagi kabarnya. Suami saya masih kadang2 ketemu waktu baru awal2 lulus. Malah sempat foto studio bareng.

Photo courtesy of Idos


Sampai akhirnya sekitar mid 2013, saya dengar Yoga mencalonkan diri jadi anggota DPR dapil luar negeri. Jujur, saya sempat kaget. Sebuah pilihan yang tidak biasa untuk seorang lulusan Biologi seperti Yoga. Tapi saya juga tidak begitu heran, mengingat Yoga yang aktif di organisasi macam2 bahkan setelah lulus.

Saya pun hanya jadi silent follower. Walaupun ada beberapa statement nya yang mungkin tidak saya benar2 dukung, tapi saya tetap salut. Dalam hati saya kagum, Yoga berani untuk melakukan sesuatu yang konkrit untuk negara nya. 

Percakapan terakhir saya dengan Yoga adalah bulan Maret tahun lalu. Saya diminta seorang teman saya di Rotterdam untuk menghubungkan dia dengan Yoga. Sebagai caleg untuk dapil luar negeri, teman saya ingin melibatkan Yoga dalam diskusi dengan calon pemilih luar negeri via Reddit. Yoga tentu saja menyambut dengan senang hati. (ini link ke discussion nya bagi yang mungkin berminat: http://www.reddit.com/r/indonesia/comments/218buc/yoga_dirga_cahya_caleg_dapil_dki_jakarta_ii_luar/)

Maret 2014


Setelah pemilu 2014 kemarin, saya dengar Yoga kembali ke Jakarta, buka usaha restoran Cina halal :) 

Dan tiba-tiba... hari ini suami saya mengabarkan berita: Yoga dirawat di IGD RSCM karena masalah ginjal. Saya kaget, setahu saya Yoga adalah seorang yang sehat dan rajin olahraga. Tapi saya masih belum punya prasangka buruk, dan mendoakan semoga Yoga cepat sehat. 

Hingga beberapa jam kemudian, saya membuka Facebook dan menemukan banyak sekali postingan yang dimulai dengan,

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, RIP Yoga Dirga Cahya
Saya tak sanggup berkata2 sembari terus memeriksa Facebook saya. Yoga meninggal karena gagal ginjal, begitulah ringkasannya. Saat itu saya ada di luar, sedang menunggu pesanan makanan. Suami segera saya kabari dan sama seperti saya, dia pun hanya bisa berucap 'innalillahi wa inna ilaihi rojiun'

Sekali lagi, kami diingatkan.

Hidup yang begitu pendek dan rapuh. Dan bahwa kita semua, nanti pasti kembali pada Nya.

It's just the matter of who's going first. And what will we bring with us.



Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Selamat jalan, Yoga. 
Allah loves you so much that He called you very soon. 
Be happy with Him. You will suffer no more. 
Apapun yang indah di dunia ini, tak ada yang mengalahkan surga Nya. 
Semoga kau bersama orang-orang mukmin.

See you when we see you, insya Allah.



Sunday, January 11, 2015

{Rant} Halal or Not?

Another rant this morning. I think I need to get this out of my system.

Bekgron problem dulu biar ga bingung..

Tinggal di negara yang Muslim nya termasuk minoritas, membuat saya jadi super aware sekali sama yang namanya makanan Halal-Haram. Boleh dibilang, saya termasuk orang yang strict buat urusan yang satu ini. Saya punya prinsip sendiri, kalo bukan Halal certified atau yang punya restoran itu orang Muslim, saya ga akan makan disana. Minum mungkin masih ok, tapi kalo makan, saya akan menolak dengan halus.

Itu kalo masalah makan di restoran, lalu gimana kalo yang produk2 ga bersertifikat Halal?

Waktu saya masih di Jepang, dimana produk2 seperti itu bisa dihitung dengan jari, kadang2 saya memang tidak punya pilihan lain. Tentunya setelah memastikan kanan kiri kalo apa yang akan saya beli ini memang aman. Bisa tanya2 teman yang lebih ahli, atau ke tempat2 lain yang memang mencantumkan list barang2 Jepang yang aman di konsumsi.

Tapi di Singapore yang produk Halal certified nya bertebaran? Saya selalu pilih yang Halal certified sebisa saya. Cadbury ga Halal certified? Ga masalah, masih ada Van Houten dan yang lain. Starbucks ga Halal-certified? Coffee Bean juga ga kalah enak.

All good now, yea?

Trus, problemnya apa?

Prinsip saya yang seperti itu pastinya ada yang mencibir. Dibilang terlalu strict lah, dibilang sok lah, sampe ada yang menyindir dengan kalimat standar yang entah sudah berapa kali saya dengar, "Ga ada Halal certified bukan berarti ga halal kan? :)" 

Iya, itu ada emoticon smiley di belakangnya. I hate that kind of thing by the way.

Memang, pada dasarnya segala sesuatu itu Halal sampai dinyatakan haram. Dan saya tidak akan membantah itu. Tapi, saya memilih bersikap hati2. NO HALAL CERTIFIED MEANS NO. Titik. Kalau orang lain tidak berprinsip seperti itu, silakan.

Tapi sebagai Muslim, sudah kewajiban saya mengingatkan. Untuk bersikap hati2 tentunya. Karena jujur saja, di Indonesia sekalipun yang mayoritas nya Muslim, sikap hati2 begini surprisingly jarang sekali saya temui.  Mungkin karena konsensus yang ada, dari Muslim ya sudah pasti lah Halal. Tapi sayangnya yang saya denger ga seperti itu, dan sedihnya lagi, banyak orang yang kurang hati2.

Itu baru kasus makanan yang made in Indonesia. Sekarang makin banyak makanan impor yang di re-sell sama online shop, terutama makanan dari Jepang, Korea, atau US. Sebut lah merk Kit Kat. Yang satu ini banyak banget di impor ke Indonesia dari Jepang karena memang varian yang di Jepang itu macam2 banget, ga cuma coklat thok. Atau Pepero dari Korea. Dan yang lagi ngetren sekarang adalah Ovomaltine.

Yang bikin saya gemes adalah, mentang2 yang jual itu orang Indonesia, lantas kawan2 Muslim di Indonesia itu terima mentah2 saja kalo dibilang 'Halal'. Ga bothered buat periksa bahan, atau sekedar browsing internet nanya2 apa ini aman dimakan sama Muslim apa ga.

Bahkan adik saya sendiri pun seperti itu. Dikasih oleh2 makanan dari Singapur, dicoba dan enak katanya, trus dia nitip ke saya buat dibeliin makanan itu, langsung saya semprot, "Itu ga halal!"

*tarik napas*

Dan yang paling bikin sakit hati adalah, ketika kita mengingatkan kawan kita tentang hal2 seperti ini, yang ada mereka malah MARAH dan DEFENSIVE.

Seperti yang saya sebut di atas, mereka cenderung mencibir dan mengelak dengan berbagai macam alasan. Tak perlu lah saya tulis disini, yang jelas alasan2 mereka sering membuat saya meragukan kapasitas cara berpikir mereka.

Saya sering menghibur diri dengan membatin, "Ya sudahlah, yang penting sudah mengingatkan."

Tapi kadang2 kesal juga karena kita dicap aneh2 hanya karena mengingatkan. Sampai kadang2 berpikir, sudahlah buat apa lagi diingatkah kalo ujung2nya cuma dicemooh dan dicibir.

Btw, kenapa ya untuk hal2 seperti ini malah colleagues2 saya yang non-Muslim yang cenderung lebih menghormati dan bisa menerima? Sementara kawan2 Muslim saya malah susaaaah sekali menerima prinsip yang seperti itu.

Ah manusia :(


Friday, January 9, 2015

{Curhat} Working Mom

Saya mau curhat aah.

I am a working mom, dan masa bodoh orang2 di luar sana yang mau ngejudge macam2 dengan segala komen2 mereka soal working mom yang mau enaknya aja dan ga mau ngurus anak di rumah. You don't live my life, people, so stop being busybody and take care of your own business!

Menjadi working mom adalah pilihan saya, yang sudah saya pikirkan matang2. Saya tahu resikonya, dan saya siap untuk itu. Dengan kondisi saya dan keluarga saya, menjadi working mom adalah pilihan terbaik, in the long run.

Tapi yah,

Manusia wajar kan kalo capek?

Di perusahaan saya yang sebelumnya, I feel like I wasn't being appreciated, and despite the freedom there, saya ngerasa useless, and it was bad. Jadi ga semangat kerja, dan efek nya jadi keliatan di mana2.

And now, in my current company, saya tiba2 overwhelmed. Banyaaaak sekali kerjaan dan banyaaak sekali client and colleagues yang bertumpu sama saya. To be honest, I am happy. I love it, and despite the amounts of work, I am happy being appreciated for what I've done.

Dengan perubahan yang drastis -dari nyaris ga ada kerjaan ke selalu ada kerjaan-, energi saya drained. Super drained that I always overslept in the morning. Sedih banget sekarang saya hampir selalu kelewatan Subuh :'(.

Zal is becoming more active than ever. Selalu ngajak main, dan senyum dia tiap kali main itu bener2 melting and it helps me overcoming some of the tiredness from work. But do I have energy to keep up with him? Most of the time, no. Really. When I reached home, I am usually in my most tired state. Dan Zal kalau udah ngeliat saya tuh udahlah, bai bai sama semua mainannya, maunya nempel, nenen, main2 sama saya. I am happy that my son prefers me more than anything, it makes everything worth it. But at the same time, I kinda wish I have some more of me-time. Just... moments to shut down everyone and focus on me.

Kayaknya saya perlu lebih banyak olahraga biar saya ga secapek ini deh tiap kali pulang kantor :( Hoping that I can resume to my jogging regime once Zal reaches 1 year old. Hopefully.

Dan berharap semoga orang2 rumah ngerti, I need more rest..

Sunday, December 28, 2014

Setelah peralatan tempur siap, ada beberapa hal yang juga mesti saya siapin sebelum saya berangkat ke Jepang.

1. Cek hotel tempat nginap

Buat background aja: Dari hasil browsing2 internet, pada umumnya ibu2 yang pumping dikala business trip ini perlu fasilitas pendukung dari hotel which is... kulkas buat tempat nyimpan ASIP. Beberapa ibu cukup beruntung karena dapat jatah menginap di hotel berbintang yang punya fasilitas kulkas memadai (beneran kulkas, bukan cuma chiller) buat nyimpen ASIP. Sayangnya saya ga kebagian nginep di hotel kayak gitu. Yaaa, namanya juga business trip karyawan baru, saya mesti tau diri buat ga minta macam2.

Begitu tahu nama hotelnya dan mulai googling cari review kemana2, saya langsung punya feeling kalo hotel tempat saya menginap itu ga akan punya space buat nyimpen ASIP saya. Dari yang saya baca, mereka tipe boutique hotel yang cuma nyediain sarapan seadanya, i.e ga akan punya dapur sendiri kayak hotel2 berbintang. Just to check, I finally sent an email inquiring about their fridge, dan alasan kenapa saya perlu tahu soal kondisi fridge mereka. 

Daaaaann, inilah yang bikin saya malas.

Kalo ada yang udah pernah berurusan sama orang Jepang, pasti tahu kalo mereka agak reluctant buat communicate in English, kecuali yang emang kerja di perusahaan asing. Berhubung Nihon-go saya juga ga bagus2 amat, saya pun ga punya pilihan selain nulis email in English. Seperti yang sudah saya duga, email saya ga pernah dibalas. Mendekati hari keberangkatan, saya makin cemas karena ga ada kabar. Sementara saya baca dari review2 di internet, orang2 cuma nulis kalo di hotel ini tiap kamar ada mini fridge. Mini fridge? Se-mini apa? Atau jangan2 itu sebenernya cuma chiller? Aaah, bingung banget lah waktu itu >.<

Alhamdulillah, saya punya teman baik di Tokyo yang bisa saya hubungi. Mas Ibul, terimakasih banyak sekali T~T 

Teman saya akhirnya menelepon langsung ke hotel itu dan tanya2 soal kulkas disana, dan ternyata ketakutan saya beneran dong :( Mereka bilang kulkas mereka cuma muat kira2 10 kantong @ 100 ml.
Saya jadi panik. Bingung solusi. Suami menyarankan sewa kulkas harian di Jepang, tapi menimbang2 susahnya akhirnya saya ga meng explore pilihan itu.

Alhamdulillah, mas Ibul punya kenalan yang tinggal nya cuma satu stasiun dari hotel tempat saya menginap. Dan dia membolehkan kulkas nya dipake sementara buat saya nyimpen ASIP. Waaa \^^/ 

Emang agak repot sih karena tiap malam saya mesti ke tempat temennya mas Ibul itu buat nyetor ASIP, tapi saya udah bersyukur banget ga perlu bingung masalah kulkas tempat nyimpan ASIP. Hehe.

Terus apa saya masih tetap nitip ASIP di hotel? Begitulah. Saya ga punya pilihan lain karena di kamar cuma ada chiller. Jadi ada beberapa sesi memompa di hotel yang mau ga mau, hasilnya mesti saya titipkan di kulkas hotel. Mengenai jadwal memompa saya selama disana, nanti saya bahas :) 

Kesimpulannya, selalu cek ke hotel tempat menginap jauh2 hari sebelum keberangkatan, supaya kalau terjadi seperti yang saya alami ini, bisa siap2 plan B jauh2 hari. It will help if you have a friend that can speak native language :)

2. Cek ke kulkas kantor (atau dimanapun bakalan berkantor selama business trip)

Supaya bisa nitip ASIP di kantor kalo siang. Dalam kasus saya ini, alhamdulillah hotel tempat saya menginap cuma berjarak 5 menit dari kantor. Jadi, hasil memompa di kantor bisa saya titipkan dulu di kulkas hotel. Tapi tetaplah saya mencari info soal fasilitas kulkas ini, dan alhamdulilah ada kok di kantor. Yatta \oo/

3. Cek tempat memompa di kantor

Saya belum pernah dengar ada perusahaan Jepang yang breastfeeding friendly, jadi saya agak ketar ketir juga waktu nanya soal ini ke office manager di sana. Dan benar saja lah, mereka ga punya nursing room atau sejenis nya disana. Tapi ada satu ruangan kecil di kamar mandi yang aslinya buat ruangan ganti baju tapi ga pernah ada yang pake. Ruangannya bersih, dan yang paling penting, ada colokan disana! Baiklah, satu lagi masalah teratasi \o/

4. Informasikan soal pumping ini ke manager/atasan selama disana

Buat saya, ini super penting. Saya ga mau nanti manager saya disana dapet kesan saya suka ngabur2 ngilang selama training. Saya email ke ibu manager saya, beritahu bagaimana jadwal saya, dan mencoba menyesuaikan dengan jadwal training yang sudah dia kirim jauh2 hari. Alhamdulillah, ibu manager mengerti :)

*

Oke, urusan cari info dan memberi info sudah beres. Apa saya bisa tenang? Belumm dong. Sebenernya ketakutan saya yang satu lagi adalah: takut Zal ga mau latching langsung begitu saya pulang :( Ga ada yang bisa saya lakuin sih kalo soal yang ini. Bener2 cuma bisa berdoa aja supaya dia tetap mau nyusu langsung setelah 5 hari saya tinggal.

*

[Sebelum berangkat ke bandara dan di bandara]

Saya susuin Zal dulu sampai dia tidur. Begitu dia tidur, saya langsung berangkat setelah sebelumnya nangis2 sesunggukan. Sampe di taksi pun saya masih nangis T~T  Baru kali itu bakalan ninggalin dia lebih dari setengah hari, sejak dia lahir. Ga tanggung2 pula jauhnya. Kalo ga inget ini demi cari rezeki buat dia juga, rasanya ga akan kuat :'( Biarlah dibilang emak2 drama, yang namanya ibu pasti ngerti susahnya ninggalin anak sejauh itu, hiks.

Sampai di bandara, sembari nunggu waktunya check in, saya masih sempat mompa sekali lagi. Dan hasil pompa saya itu, saya titip ke Suami yang ikut buat nganterin saya. Lumayan buat sekali minum dan sekalian saya ngosongin PD supaya ngisi lagi. Demand = supply, people.

[Di pesawat]

Pesawat saya berangkat jam 1 pagi T~T Yassalam, sebenernya sih ngantuk banget. Dan mengingat saya mesti geret2 koper dari Haneda ke Meguro nantinya, godaan buat tidur itu besaaar sekali. Tapi apa mau dikata, saya harus disiplin! Penerbangan ke Jepang sekitar 7 jam. Dengan jarak per 3 jam, berarti saya bisa mompa dua kali selama di pesawat.

Alhamdulillah saya dapet seat di isle. Tapiii, ternyata kiri kanan saya penuh orang. Dan mereka semua tidur! *ada yang ngorok pula zzz*. Tadinya saya udah mau ngeluarin Medela Swing, tapi saya jadi agak ragu2 melihat sekeliling saya penuh orang. Baiklah, berarti ga ada pilihan lain...

Well, bad news is, saya ga bisa mompa di kursi. The good news is, berarti saya bisa agak bebas nge hog WC. Jadilah saya mompa di WC dengan Medela Swing Maxi. Btw, saya lupa satu barang yang saya bawa juga. Medela Quick Clean namanya.

quick clean juaraa 

Emang itu apaan? Yaa sebenernya sih cuma wipes buat bersihin alat2 pompa. Asa ribet kalo saya mesti minta air panas banyak2 ke pramugari tengah malam buta gitu, dan ga praktis. Makanya beli ini biar tinggal lap, masuk lagi ke kotak dan siap buat pompa sesi berikutnya.

Oh ya, ada tips buat nyimpen ASIP selese mompa di pesawat. Sebelumnya saya udah siapkan kantong ASIP buat nyimpen es batu yang saya minta dari pramugari. Muka si mbak pramugari nya agak bingung gitu waktu saya minta es batu, dikiranya mungkin buat kompres luka atau demam kali ya :D.

Buat apa es batu dimasukkin ke kantong ASIP? Buat dimasukkin ke cooler bag beserta ASIP hasil pompa, hehe. Sebenarnya ada option buat nitip ke pramugari dan ditaro di kulkas pesawat. Tapi saya malas rempong nanti mesti minta2 lagi ke pramugari menjelang landing. Ya udahlah, disimpen di cooler bag aja, insya Allah dinginnya kabin dan es batu lumayan menolong.

Sampai di Haneda, alhamdulillah antrian imigrasi tidak sepanjang yang saya takutkan. Ngga kayak waktu saya ke Narita 4 tahun yang lalu, dimana antrian imigrasi bisa sampe satu jam sendiri. Sebetulnya saya juga baru kali kmaren itu ke Haneda, jadi masih agak lost, haha.

10689927_10152552689379613_2545390520043115315_n
Sampai di Haneda dengan muka bantal


*

[Selama training]

Seperti yang udah saya jelasin di atas soal kondisi hotel dan kantor saya, akhirnya saya pun menyusun jadwal seperti ini selama saya di Jepang.

Dini dan pagi hari:

Tengah malam buta pun saya paksain bangun tiap 3 jam demi mompa. Hasil pompa itu selalu saya setor ke kulkas hotel. Dan pagi hari, sebelum berangkat ke kantor, saya juga pompa dulu. Titip lagi di kulkas hotel. Dan inilah gunanya zip lock yang saya bawa. Buat ngebungkus si kantong ASIP, dan ditulis nama dan nomor kamar saya supaya ga ketuker. Tak lupa saya bilang ke receptionist, kantong ASIP ini bakalan saya ambil nanti malam.

Siang dan sore hari:

Mompa di kantor. Titip di kulkas kantor, tapi cuma biar dingin dan ga saya bekuin. Selese training tiap sore, saya bawa pulang dan taro di chiller di kamar.

Malam hari:

Saya mompa lagi setelah makan malam. Setelah itu saya ke receptionist hotel dan minta kantong ASIP yang saya titip tadi pagi, terus saya masukkan seluruh hasil pompa hari itu, termasuk yang ada di chiller ke Igloo Cooler Bag saya beserta beberapa bungkus ice pack. Setelah itu berangkatlah saya ke tempat teman mas Ibul.

Jadwal di atas saya ulang lagi selama 5 hari saya disana.

Hari terakhir, sebelum saya check out dan berangkat ke bandara, saya masih sempat mompa sekali lagi abis Subuh. Pesawat saya kembali ke Singapur jam 10 pagi. Sesuai budaya kiasu yang saya anut, saya menargetkan check in jam 8 pagi di Haneda :D. Dari Meguro (tempat hotel saya) ke Haneda sekitar 30 menit. Saya juga memberi buffer 15 menit, kalau2 ada apa2. Berarti saya berangkat dari Meguro sekitar jam 7 pagi. Karena saya masih harus ngambil ASIP di tempat teman mas Ibul, saya pun check out jam 6 pagi dari hotel. Bismillah. 

Sesampainya di tempat mas Firman, saya langsung ngepak ASIP. Dan disinilah kejadian juga.. Fridge To Go ternyata ga muat :o

Ga muat :(
Ga muat :(

Saya ga mau maksain, takutnya nanti malah pecah atau gimana di bagasi, akhirnya saya transfer sebagian ke Igloo Cooler Bag. Alhamdulillah, untunglah tas nya dibawa >.<

Waktu ngepak nya, sesuai rencana, saya sumpel2 lagi si FTG dan Igloo pake kertas koran sepadat yang saya bisa. Setelah beres, saya masukkan FTG dan Igloo ke koper dan saya bungkus lagi dengan pakaian saya. Berangkatlah saya menuju Haneda~

[Di Haneda]

Saat saya sampai di Haneda, ada insiden kecil yang bikin panik. Di Haneda ternyata bangunan terminal lokal dan internasional nya kepisah jauh dan perlu naik shuttle bus. Saya salah turun kereta :( Mestinya turun di stasiun yang langsung di terminal internasional, saya nya malah turun di stasiun lokal. Heughhh. Untungnya saya berangkat lebih pagi, jadinya saya ga terlalu panik saat saya harus mengejar shuttle bus ke terminal internasional. Tapi ya agak ketar ketir juga jadinya.

Check in, masuklah koper saya ke bagasi beserta oleh2 buat Zal. Saya pun menenangkan diri. Saya sudah berusaha sebisa saya, sekarang lillahi ta'ala. Sambil tetap berdoa tentunya, supaya ASIP nya tetap beku sampai di rumah nanti.

Sambil nunggu waktunya boarding, saya pun berkeliling Haneda. Saya ingat pernah ada yang bilang di Haneda sudah ada praying room buat Muslim. Wah, menarik. Saya pun mencari2, dan ketemuuu.

Masuknya mesti pake intercom
Masuknya mesti pake intercom

Sedang bukan waktu shalat, jadinya ga ada siapa2 di dalam. Terlihat bersih, dan nyaman. Ada tempat wudhu pula di dalam. It's true that Japan is getting more Muslim-friendly :D

Momiji imitasi
Momiji imitasi
Waktu saya kesana, musim gugur belum benar2 dimulai dan daun momiji belum ada di Tokyo, ya sudahlah foto2 saja dengan yang imitasi :p

[Di pesawat]

Di pesawat balik ke Singapur, saya tetap mompa, ohoho. Bedanya adalah, pesawat baliknya ini ga seramai sebelumnya. Saya kembali dapat tempat duduk di isle, tapi sebelah saya kosong, yaay. Jadi saya pun santai mengeluarkan Medela Swing single pump saya, kemudian memakai selimut sebagai cover. Lebih hangat sih daripada nursing cover saya yang tipis, hihi. Saya pun memompa dengan damai, haaaa~

[Di Changi]

Nah inilah tantangan yang lain lagi sesampainya saya di Changi. Begitu saya sampai, ternyata hujan deras! Karena hujan, cargo unloading jadi ada delay. Saya mulai agak panik. Delay nya pun lumayan lama, sekitar 30 menit. Walhasil begitu koper saya terlihat, langsung saya sambar (btw, 21 kilo loh) dan melesat keluar cari taksi.

Ternyataaaa, saya kena macet juga di express way! Memang sih, Jumat sore, arus lalu lintas pasti ramai. Tapi saya kan naik express way menjauhi kota, kenapa masih kena macet juga :((( Ditambah lagi ada kecelakaan pula, makin lambat lah kami merayap di (not so) express way. Total waktu yang saya habiskan dari mulai turun pesawat sampai ke rumah sekitar 2 jam. Saya mulai pasrah :( Semoga kalaupun ada yang cair, ga banyak2 amat, hiks.

[Di rumah]

Buka pintu, dan langsung saya minta tolong sama Mbak Marni buat membongkar koper saya dan periksa kondisi ASIP. Deg2an super >.< Alhamdulillah, ternyata 4.8 liter yang saya bawa pulang masih beku! Subhanallah, terharuuuu. Langsung semuanya masuk freezer!

Terus, defisit ga? Wkwkwk, sayangnya iyaa. Ternyata Zal minumnya jauh lebih banyak dari yang saya perkirakan. Diliat dari catatan mbak Marni, Zal habis 5.9 liter selama saya tinggal. Wakwakwakwak.

Daan, pertanyaan lain lagi.. apa Zal masih mau nyusu langsung? Alhamdulillah lagi, MASIH MAU DAN TETAP SEMANGAT. Wkwkwk. Lega deh rasanya liat anak yang langsung berseri2 nyambut ibu nya pulang dan langsung dengan semangatnya nyusu, kangen beraaatttt.

*

Kesimpulannya? Bersyukur banget trip yang satu ini saya lalui dengan baik. Emang ribet, emang susah, apalagi deg2an nya yang bikin saya hampir nangis. Tapi kalo emang niatnya baik, insya Allah jalannya di lempengin deh :)

Oh ya, dan ini juga jadi training yang bagus buat Papa nya Zal, hihi. Biar belajar gimana caranya nidurin anak kalo malam :p

Kalo lain kali ada business trip jauh2 begini lagi, apa saya mau?

Hmmm. To be honest, saya malas, haha. Mungkin kalau nanti mesti ada business trip lagi, saya usahakan Zal bisa ikut. Asik juga kali ya, jalan2 sama Zal (partially) sponsored by company :p *halah*

Wednesday, December 24, 2014

Intermezzo dulu ah~

Alhamdulillah saya dapat tawaran kerja baru di sebuah company yang HQ nya di Paris dan baru buka cabang di Singapur buat pasar South East Asia mereka. Dan karena mereka baru buka cabang, otomatis orangnya belum banyak, dan orang yang belum banyak itu pun harus di training dulu. Sebagai pegawai ke-8 (iya, baru delapan orang xD), saya pun kena tugas mulia training ke Jepang. Kenapa Jepang? Karena HQ mereka di kawasan APAC adanya di Jepang. Dan manager saya pun sebenernya basis nya di Jepang.

Well sebenernya kalo boleh milih sih saya ngga pengen training jauh2 huhu. Belum apa2 udah kepikiran rempong nya mesti mompa dan bawa balik ASIP buat Zal. Maksudnya, Fan? Tetap mau mompa ASIP selama training? IYA DONG. Alasannya?

  1. Yang namanya ASI itu supply and demand. Kalo saya berhenti mompa tanpa ada direct latch dari Zal, otomatis badan akan berpikir kalo Zal udah ga butuh ASI lagi dan mengirimkan sinyal buat berhenti produksi ASI. Bayangkan kalau 5 hari! 
  2. Stock ASIP saya alhamdulillah lumayan berlebih. Tapi Zal ini bayi yang doyan ASI, walaupun udah mulai makan dan minum air putih. Konsumsi sehari2 dia kalau saya tinggal kerja adalah sekitar 500-600 ml. Saya perkirakan kalau 24 jam itu konsumsi ASI Zal bisa sekitar 1 L. 5 hari berarti 5 L, kurang lebih. Wadaw, terlalu riskan kalau saya terlalu mengandalkan stock. Bukannya ngga cukup sih buat 5 hari, tapi saya ga mau jumawa karena bisa aja saya butuh nyiapin stock lagi buat kalau ada keperluan darurat.
Dengan pertimbangan di atas itu, udah jelas kalau mau ga mau saya harus tetap pumping. Waktu saya dapat kabar sebulan sebelum saya berangkat, saya langsung browsing buat cari tahu apa aja yang harus saya siapkan buat bisa tetap pumping dan -yang paling penting-, bawa ASIP balik ke Singapur dalam keadaan masih bagus.

Saya mencari kemana2 sampai akhirnya nyasar ke blog nya mbak Ingkie. Beliau menuliskan pengalaman nya waktu harus dinas luar negeri ke London dan berhasil membawa balik ASIP nya dalam keadaan bagus, padahal door to door itu kira2 20 jam loh. Mantap!

Ada juga forum singaporemotherhood dimana saya menemukan satu thread yang isinya sharing pengalaman mummies yang ada di posisi sama dengan saya. Ada yang sukses, ada juga yang gagal. Lalu saya juga mencari wangsit ke teman2 yang sudah pernah ada pengalaman bawa ASIP dengan waktu tempuh yang panjang. Salah satunya Ratih, yang berangkat training sebulan sebelum saya. Ga tanggung2 jauhnya, ke Belanda! Dan alhamdulillah, Ratih sukses bawa pulang sekitar 50 kantong ASIP balik ke singapur. *tepok tangan*

Berbekal ilmu dari ibu2 hebat inilah, saya pun mempersiapkan alat tempur.

1. Cooler Bag

Benda yang satu ini harus berkualitas prima. Bener2 harus yang bagus dan terbukti bisa tahan dingin lebih dari 10 jam. Dari hasil browsing, saya menemukan beberapa pilihan. Tapi konsensus ibu2 mayoritas selalu sama: FRIDGE TO GO.

Menurut testimoni emak2, FTG ini emang tahan dingin banget, at least sampe 12 jam lah, sesuai sama yang udah di advertised sama produsen nya. Kebanyakan emang dipake sama ibu2 di luar negeri, sementara di Indo masih jarang ibu2 yang pake begini buat bawa ASIP balik dari dinas luar negeri atau luar kota.

   

Tapi yah, emang ada uang ada barang. Si FTG ini mahalnyaa selangit. Cek2 di Mothercare SG, harganya 99.9 :( *emak mewek*. Ya saya tahu sih ini demi anak *mantra ajaib*, tapi kok ya mikirin beli seharga ini dan kemungkinan dipake nya cuma sekali itu kok rasanya nyeseeekkk banget. Huhu. Akhirnya jadi mikir bolak balik deh, beli-ngga-beli-ngga-beli-ngga. Udah gitu pun, setelah liat barang aslinya, yang tadinya mikir 'ah bisalah ini dimasukkin 50 kantong @100 ml' berganti jadi 'hah, serius ini kecil pisan??'. Beneran loh, saya sampe bawa lembaran koran yang saya selotip jadi kira2 seukuran kantong ASIP yang isinya 100 ml, dan emang keliatan ga muat kalo dikira2 sampe 50 kantong! Hadeuh.

Bener2 dilema waktu mau beli ini. Akhirnya saya cek2 internet lagi, dan menemukan satu online shop yang ngejual si FTG Victoria ini lebih murah 10 dolar daripada harga mothercare, plus free courier. Karena tanggal keberangkatan semakin dekat, akhirnya Suami yang gemes liat saya maju mundur buat beli FTG memberikan titah buat 'ayo langsung beli!'. Dan sampailah si FTG ini di rumah beberapa hari kemudian, lalala~

Selain si FTG ini, Ratih juga menyarankan pake cooler box merek Coleman, buat jaga2 kalo si FTG nya ga muat. Tadinya saya juga niat mau beli itu selain ngambil si FTG Victoria ini, tapi ternyata setelah diliat2 kok kayak nya berat yah... batal lah akhirnya mau beli itu. Nyari alternatif lain, dan akhirnya balik lagi ke blog nya mbak Ingkie, dan memutuskan buat investasi ke Igloo Cooler Bag juga, ohohoho.

 

Well, masalah lain adalah, barang ini ga dijual di singapur! >.< Saya sampe ngubek2 online shop kemana2, bahkan sampe ke toko peralatan rumah tangga cem yang mirip2 ACE Hardware kalo di Indo, ga nemu2 juga. Huff. Buat beli cooler box, saya ga rela. Soalnya ini kan cuma buat cadangan kalo2 si FTG nya ga muat. Kalo ternyata muat dan saya dah terlanjur bawa2 cooler box berat2, malas kan jadinya. Apalagi perjalanan dari hotel ke bandara nanti bakalan saya tempuh dengan naik kereta, dan ganti2 jalur di Tokyo itu susah! Beneran deh saya males banget kalo inget itu. Akhirnya saya teruskan pencarian si Igloo ini, sampe akhirnya saya nemu barang ini di online shop punyanya Malaysia :O

Terus yah, dasar emak2 perhitungan (ya maklum kakak, baru aja beli FTG :'(), saya pun masih ga rela kalo mesti bayar ongkos kirim Malaysia ke Singapur. Akhirnya, cari inspirasi di kantor. Sampe akhirnya menemukan ide jenius buat... nitip ke temen saya di kantor yang orang Malaysia :D

Dan emang kalo niatnya baik mah pasti ada aja jalannya yah, hueheheh. Sama temen saya yang Malaysian itu, tas ini ujug2nya dibeliin! Katanya buat hadiah farewell. Hiks. Jadi agak sedih pas dibilang begitu. Tapi makasih banyak loh temaan. Alhamdulillah ternyata kepake!

2. Ice gel, ice pack, segala macam alat yang bisa menjaga suhu dalam cooler bag tetap dingin.

Baiklah, saya emang emak2 parno :D

Ga tanggung2, saya beli EMPAT macam ice gel buat saya bawa ke Jepang, haha. Dan empat macam itu bukan masing2 satu, tapi masing2 DUA, hohoho *ketawa freak*.

Kenapa saya parno? Perjalanan Tokyo-Singapur itu kira2 7-8 jam. Ditambah jeda dari check-in sampe bener2 take off, taro lah sekitar 2 jam maksimum. Terus masih ditambah perjalanan dari hotel ke bandara yang kira2 45 menit. Daaaan, masih ada lagi jeda dari ASIP keluar kulkas, dibungkus2, dan masuk ke cooler bag, kira2 30 menit. Ada lagi waktu tambahan dari pesawat mendarat, sampe akhirnya saya bisa ngambil bagasi, dan sampe di kulkas depan rumah yang kira2 sekitar 2 jam maksimum.

In total, 8 jam + 2 jam + 3/4 jam + 1/2 jam + 2 jam = 13.25 jam 

Jadi, saya harus bener2 esktra hati2 sama ice gel. No wonder kan ya saya sampe beli segitu banyak. 

Tadinya kepikiran mau coba pake dry ice kayak yang dianjurkan salah satu mommy di forum ibu2 singapur, tapi buat kondisi saya waktu kemaren di Jepang, itu ga feasible, jadi terpaksa harus saya coret.

3. Kantong ASIP

Terpujilah wahai penyelenggara pameran bayi :D Lha? Kenapa tiba2? 

Secara kebetulan, beberapa minggu sebelum saya berangkat ke Tokyo, di Singapur ada pameran bayi gede2an. Saking besarnya sampe ruang pameran di Expo itu disewa tiga ruangan. Tadinya saya berniat cari2 peralatan tempur di sana, tapi dibatalkan karena beberapa item ga available.

Tapiii, ga sia2 juga sih, soalnya nemu promosi kantong ASIP! Merk nya sih ga terkenal, dan terus terang saya agak ketar ketir beli nya. Maunya saya sih kantong ASIP nya mesti yang anti-leak dan durable, supaya ga bocor di bagasi nantinya. Secara yah di pesawat kan ada perbedaan tekanan udara, takutnya saya nanti kejadian deh kantong ASIP nya bocor. Dan kalo yang bocor lebih dari satu, saya bakalan nangis bombay nantinya :(

Anyway, back to merk-ga-terkenal itu. Akhirnya saya tetap beli juga sih, pikiran nanti mau coba dulu 3-4 kantong sebelum berangkat, liat performance nya gimana, kalo keliatan nya ok, ya gpp bawa si kantong itu buat selama di Tokyo. Kalo ngga ya cari yang merk lebih terkenal hehe. Emang se-promo apa sih kantong nya? Well, I think 26 bucks for 160 pieces is pretty good deal :D *jiwa hemat*

4. Koran!

Sebelum belanja peralatan tempur, saya sempet imel2an sama mbak Ingkie buat nanya2 saran supaya ASIP tetap beku selama di perjalanan. Lalu, beliau pun menyarankan saya dua hal yang paling penting:
1) Tutup cooler bag serapat2nya, ruang2 yang kosong di dalam cooler bag mesti di sumpel juga. 
2) Bungkus ASIP dengan koran, it helps since it's an insulator.
Astaga, bener juga yah. Saya sampe lupa kalo koran itu insulator. Kemana aja ilmu fisika yang dulu sampe mati2an di pelajarin ituh??

5. Selotip, plastic wrap, zip lock

Selotip ini tadinya mau saya pake buat nempelin label penanda kalo saya bawa breastmilk di bagasi saya. Tapi akhirnya.... ga jadi, hahaha. Ga inget kenapa.

Plastic wrap ini juga tadinya saya mau pake buat kasih extra wrapping buat si kantong ASIP, but again, I didn't do this one either. Ga ada waktu blas! Pikiran saya waktu mindahin si ASIP dari kulkas ke FTG+Igloo ini yah cuma biar cepet aja, huhu.

Naaa, kalo zip lock, saya pake buat ngebungkus si ASIP pas saya nitip taro di freezer hotel dan freezer kantor. Kenapa pake zip lock? Nanti saya ceritain lebih lanjut di part 2, hahaha.

6. Breast pump+charger nya, converter, dan batere rechargeable (plus charger nya).

Again, karena saya adalah emak2 parno, akhirnya saya bawa dua2nya breast pump yang saya punya, haha. Jadi ceritanya, tadinya saya cuma niat bawa si Medela Swing Maxi yang dobel pump itu buat pompa di pesawat dan saya emang niat buat pompa di tempat duduk aja.

si Maxi yang rada brisik :D

Tapii.. flight saya ke Tokyo itu pas dini hari, jam nya orang2 pada tidur. Kalo saya nanti ga beruntung dapetnya kursi yang sekeliling nya cowok semua, bisa jadi lumayan menarik perhatian juga, dan kasian kalo sampe nge ganggu orang lain yang pada tidur.

Kenapa ga mompa di toilet? Saya jujur aja malassss sekali mesti mompa di kamar mandi. Udah ga higienis, dan bisa aja ada orang yang mesti buru2 pake kamar mandi, tapi ga bisa karena saya nge hog di dalem. Oh, dan LDR saya biasanya lama, jadi minimal saya mesti ngendon kira2 30 menit di dalam kamar mandi.

Akhirnya saya memutuskan buat bawa Medela Swing yang single pump, buat jaga2 aja. Jadi kalo situasi saya kepepet kayak di atas, saya tetap bisa pompa di tempat duduk tanpa perlu ke kamar mandi. At least, suara si Swing ini ga seberisik kakaknya si Swing Maxi.

Swing andalan, tarikannya pol!

Batere rechargeable itu saya bawa juga buat jaga2. Saya ga tau colokan di kantor atau hotel nanti bisa mengakomodir charger breast pump saya apa ngga, jadi buat jaga2 akhirnya saya bawa batere rechargeable. Lumayan mahal juga loh ini :( Udah gitu, batere buat Swing dan Swing Maxi ini beda tipenya. Yang satu pake AA, lainnya pake AAA. Hadeuh. Tapi demi anak, akhirnya saya bela2in aja beli.

7. Converter!

Maha penting ini sodara2. Converter ini penting banget buat segala macam charger. HP, laptop, breast pump, dsb. Saya masih punya converter yang saya pake waktu masih di Jepang dulu, jadi ga perlu beli lagi, hehe. *keluar lagi hematnya*

8. Tas breast pump

Baiklah, ini juga sekalian buat pamer2, hihi.

Beberapa minggu sebelumnya, saya lagi asik browsing2 cooler bag buat dibawa ke kantor. Tadinya saya cuma bawa satu tas ke kantor: backpack yang isinya segala macam peralatan mompa, plus notes, plus dompet, plus lunch box, dsb. Praktis sih emang. Tapi punggung saya jadi sakit soalnya ternyata bawaan printilan ini lumayan berat juga.

Akhirnya setelah mikir2, kayaknya lebih baik kalo saya misahin aja barang bawaan jadi dua tas, satu tas buat keperluan ke kantor, satu lagi buat bawa peralatan pumping sama ASIP. Kalo yang baca postingan saya dulu, mungkin ngeh kalo saya udah punya Gabag cooler bag, hehe. Tapi ya ternyata si Gabag ini ga muat buat bawa Medela Swing saya plus ice gel sama hasil perahan ASIP. Apalagi buat yang Swing Maxi. Akhirnya saya gugel, ketemulah satu merk yang bikin saya langsung suka.

Autumnz Cooler Bag - Henna Grey

Cakep kan ya tasnya? Hahaha.

Iya ini juga saya beli buat dibawa2 ke kantor nantinya. Jadi mau saya test drive dulu dengan dibawa ke Tokyo. Tapi apakah disananya kepake? Hahahaha. *ketawa miris*

8. Nursing cover

Saya belum tahu apa nantinya saya perlu pumping di luar, tapi jelas saya butuh ini buat nantinya pumping di pesawat.

*

Peralatan tempur sudah siap! Tapi masih ada yang perlu di siapin di Jepang bahkan sebelum saya berangkat. (to be continued to part 2)